Belajar Memodifikasi Opini Lewat Metode ATM

 Yuk! Belajar Memodifikasi Teks Opini Lewat Metode ATM.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Bismillahirrahmanirrahim..

Haii gais!! Gimana kabarnya hari ini? Mudah-mudahan senantiasa diberi kesehatan dan dalam lindungan-Nya..Aamiin..
Sebelumnya makasih gais udah mau mampir diblog aku!, Kali ini aku bakalan belajar memodifikasi teks opini menggunakan metode ATM.

Teks Opini Asli :
Belajar Hanya untuk Pelajar?

Suatu hal yang wajar di mana lulusan baru merasa puas terhadap pencapaiannya dalam hal menuntut ilmu, rasa puas dan bangga karena telah menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Namun dalam beberapa bulan ke depan banyak "freshgraduate" yang kaget akan kehidupan yang sesungguhnya, banyak lulusan yang belum siap untuk masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Tak sedikit yang mengalami tekanan mental yang di alami akan persaingan yang sangat keras di kehidupan nyata, semua itu dikarenakan kurangnya persiapan dan kematangan dalam mempersiapkan kehidupan usai sekolah.

Dipersiapkan untuk menjadi karyawan sejak sekolah dasar membuat masyarakat di tutup sudut pandangnya untuk bisa melihat dunia lebih dalam.

Dan tak sedikit pula rakyat Indonesia yang berhenti belajar setelah selesai menuntut ilmu di Sekolah atau Universitas, merasa sudah cukup belajar selama belasan tahun membuat mereka tidak lagi mau menambah ilmu.

Di Indonesia sendiri belajar dengan cara membaca buku dianggap remeh dan sering di jadikan bahan olokan oleh orang, padahal dengan membaca buku akan menciptakan sudut pandang baru dan melihat sesuatu dengan banyak hal.

Tentunya merasa pintar dan serba tahu yang membuat masyarakat menutup diri untuk terus belajar, menutup diri akan pemikiran baru dan tidak bisa menghargai pendapat orang lain.

Bahkan di dalam dunia pekerjaan pun orang yang sering membaca dan belajar hal hal baru dianggap bodoh dan seperti anak sekolah, bahkan di cap sebagai orang yang cari muka, mereka tidak menyadari bahwa itu sebuah ancaman untuk mereka karena "si bodoh" telah berkembang.

Jika terus begini maka Indonesia masih akan menjadi negara yang tertinggal karena banyak penerus bangsanya yang tidak mau membuka wawasan baru dan sudut pandang baru untuk melakukan suatu hal sehingga mentok dan berkata" saya telah berusaha".

Jelas hak anda untuk kembali belajar hal hal baru dan meminta pendapat orang lain akan hal itu atau menutup diri dari pendapat orang lain dan merasa masih pintar untuk kembali belajar kembali.

Kalau terus seperti ini ada apa dengan pemikiran orang Indonesia?

Sumber: https://www.idntimes.com/opinion/social/alfan-diansyah/opini-belajar-hanya-untuk-pelajar-c1c2

Modifikasi :
Apa benar belajar cuma untuk seorang pelajar saja?

Tentunya Kepuasan datang pada diri kita disaat berhasil memperoleh suatu pencapaian apalagi dalam masalah pendidikan. Hal itu merupakan hal yang wajar di mana lulusan baru merasa puas terhadap pencapaiannya hingga merasa bangga karena telah menyelesaikan jenjang pendidikannya.

"Freshgraduate". Sesuai sebutannya, fresh graduate dianggap masih 'fresh' atau segar. Mereka memiliki banyak pemikiran inovatif yang didapatkan selama menyelesaikan jenjang pendidikan. Hal ini tentu sangat disukai oleh perusahaan. Tapi banyak orang yang belum tentu siap terjun ke dunia kerja, mereka akan merasakan kaget dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sehingga mau setinggi apapun pendidikan kalian. Tapi kalau hanya bermalas-malasan dan enggan berusaha semua akan nihil tak ada artinya.

Tekanan mental menjadi salah satu faktornya, sebab mereka tak biasa dengan adanya persaingan sehingga mengalami yang namanya tekanan mental. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya persiapan yang cukup matang setelah menyelesaikan pendidikan.

Dipersiapkan untuk menjadi karyawan sejak sekolah dasar membuat masyarakat di tutup sudut pandangnya untuk bisa melihat dunia lebih dalam.

Dan tak sedikit pula rakyat Indonesia yang berhenti belajar setelah selesai menuntut ilmu di Sekolah atau Universitas, merasa sudah cukup belajar selama belasan tahun membuat mereka tidak lagi mau menambah ilmu.

Dengan adanya budaya literasi atau memperbanyak membaca buku tentunya akan menciptakan sudut pandang baru, mampu melihat sesuatu dengan banyak hal, dan menambah wawasan kita. Sayangnya, di Indonesia sendiri belajar dengan cara membaca buku dianggap remeh, dianggap cupu, sok pintar, dan dijadikan bahan untuk mengolok-olok orang.

Tentunya merasa pintar dan serba tahu yang membuat masyarakat menutup diri untuk terus belajar, menutup diri akan pemikiran baru dan tidak bisa menghargai pendapat orang lain.

Bahkan di dalam dunia pekerjaan pun orang yang sering membaca dan belajar hal hal baru dianggap bodoh dan seperti anak sekolah, bahkan di cap sebagai orang yang cari muka, mereka tidak menyadari bahwa itu sebuah ancaman untuk mereka karena "si bodoh" telah berkembang.

Jika Indonesia masih terus-terusan begini, negara ini akan menjadi negara yang tertinggal karena banyak penerus bangsanya yang menuruti gengsi, malu, dan malas, tidak mau membuka wawasan baru dan sudut pandang baru untuk melakukan suatu hal, sehingga mentok akhirnya hanya pasrah dengan apa yang ada.

Tentunya ini merupakan hak anda untuk kembali belajar menemukan hal hal baru dan meminta pendapat orang lain, memperbanyak relasi untuk saling bertukar pikiran.

Kalau terus seperti ini bagaimana dengan nasib otak orang-orang Indonesia?

Oke gais!! Cukup sekian dari aku, mudah-mudahan bermanfaat, sampai bertemu diblog selanjutnya!!!

Komentar

Postingan Populer